MAMA EYANG CIBABAT RD. KH. MUHAMMAD KURDI RA
Penjaga Ilmu, Penjaga Batin, Penjaga Tanah Pasundan
Di tanah Pasundan, ada nama yang tidak hanya tercatat dalam buku, tetapi hidup dalam getar batin umat.
Nama itu adalah RD. KH. Muhammad Kurdi RA, yang oleh masyarakat Cimahi dan sekitarnya dipanggil penuh takzim:
Mama Eyang Cibabat.
Beliau bukan sekadar ulama.
Beliau adalah penjaga mata air ilmu, tempat orang-orang menimba cahaya ketika zaman mulai gelap oleh kebodohan dan lupa diri.
SANTRI KELANA, PENCARI CAHAYA
Sejak muda, Mama Eyang Kurdi telah memilih jalan sunyi para pencari kebenaran. Ia meninggalkan kenyamanan, berjalan dari satu pusat keilmuan ke pusat lainnya di Tatar Sunda. Pesantren demi pesantren ia datangi, guru demi guru ia temui, demi satu tujuan: menyempurnakan adab sebelum ilmu, dan menyucikan niat sebelum amal.
Perjalanan itu tidak berhenti di tanah Sunda. Takdir membawanya jauh menyeberangi lautan, hingga Haramayn—Makkah dan Madinah, tempat ulama-ulama besar dunia berkumpul. Di sana, ia tidak hanya belajar, tetapi menyambung sanad keilmuan, mengikat diri pada mata rantai ilmu yang bersambung hingga Rasulullah ﷺ.
ILMU YANG TURUN KE BUMI
Sekembalinya ke tanah air, Mama Eyang Kurdi tidak memenjarakan ilmu di menara gading. Ia justru menurunkannya ke bumi Pasundan, agar dapat dipahami oleh rakyat jelata, petani, pedagang, dan santri kampung.
Dengan ketekunan luar biasa, beliau menerjemahkan dan mengolah ajaran-ajaran Islam dari bahasa Arab ke bahasa Sunda, bahasa ibu yang hidup di lidah dan rasa masyarakatnya.
Lima pilar ilmu menjadi ladang baktinya:
Sirah Nabi ﷺ
Ini bukan sekadar terjemahan, melainkan ijtihad kultural, agar Islam tidak terasa asing di tanah sendiri.
PESANTREN, TAREKAT, DAN AMANAH UMAT
Dari ruh keilmuan itu, berdirilah Pesantren Cibabat di Cimahi—sebuah pusat cahaya yang kelak namanya diabadikan menjadi nama jalan, seakan bumi pun ikut bersaksi atas jasa beliau.

Posting Komentar untuk "MAMA EYANG CIBABAT RD. KH. MUHAMMAD KURDI RA"