SANG PANGLIMA SILIWANGI YANG TAK BISA TAK BISA DIBUNGKAM

Pekalongan, 10 Juni 1925. Lahirlah seorang putra bangsa yang kelak menjadi legenda dalam barisan Divisi Siliwangi. Hartono Rekso Dharsono, atau yang lebih dikenal dengan panggilan hormat Pak Ton. Beliau bukan sekadar perwira tinggi; beliau adalah personifikasi dari sumpah prajurit yang sesungguhnya setia pada prinsip, tegak lurus pada kebenaran, meski harus berhadapan dengan tembok kekuasaan yang ia bantu bangun sendiri.

SANG 'SILUMAN MERAH' DI MEDAN LAGA

Dharsono adalah pahlawan yang ditempa dalam api revolusi. Saat Republik masih bayi, ia memimpin Batalyon III Jonggol (Badak Putih), menerjang peluru Belanda demi kedaulatan Bogor dan Bekasi. Tak berhenti di situ, pada 1948, ia memimpin Batalyon 322/Siluman Merah untuk menumpas pengkhianatan PKI di Madiun.

Baginya, kedaulatan Indonesia adalah harga mati. Puncak pengabdian militernya sebagai Panglima Kodam Siliwangi (1966–1969) menjadi bukti bahwa ia adalah pemimpin yang dicintai anak buah dan disegani kawan maupun lawan.

SEKRETARIS JENDERAL ASEAN PERTAMA

Dunia internasional mengakui kehebatannya. Dharsono tidak hanya mahir di medan tempur, tapi juga piawai di meja diplomasi. Dari London hingga Bangkok, ia membawa nama harum Indonesia. Sebagai Sekretaris Jenderal pertama ASEAN, ia meletakkan batu pertama kerja sama kawasan. Namun, bagi Dharsono, jabatan setinggi apa pun hanyalah sehelai kertas jika harus menukar integritas dengan kepatuhan buta.

KETIKA NURANI MENENTANG TIRANI

Pada 1978, dunia politik tersentak. Dharsono memilih jalan sunyi yang berbahaya. Ia melepaskan segala kemewahan jabatan demi bergabung dengan Petisi 50. Bersama para tokoh bangsa lainnya, ia mengkritik kebijakan otoriter yang mulai melenceng dari napas demokrasi.

Akibatnya? Kekuasaan berusaha membungkamnya. Ia ditangkap, difitnah, dan dipenjarakan di LP Cipinang selama lima tahun tanpa bukti yang kuat. Namun, apakah nyalinya ciut? Tidak! Di balik jeruji besi, ia tegak menantang, menyebut penjara sebagai "konsekuensi suci dari sebuah prinsip."

MAKAM RAKYAT UNTUK PAHLAWAN SEJATI

Tragedi menyayat hati terjadi saat ia wafat pada 5 Juni 1996. Negara yang ia bela sejak muda menolak jasadnya di Taman Makam Pahlawan hanya karena ia pernah dipenjara oleh rezim. Namun, rakyat tahu siapa pahlawan sebenarnya.

Pak Ton dimakamkan di TPU Sirna Raga, Bandung. Tanpa nisan megah di TMP, namanya justru terukir abadi di sanubari rakyat sebagai simbol kejujuran yang tak bisa dibeli. Ia membuktikan bahwa gelar "pahlawan" tidak diberikan oleh secarik surat keputusan pemerintah, melainkan oleh sejarah dan pengabdian yang tanpa pamrih.

"Pangkat bisa dicopot, jabatan bisa dihentikan, tapi kehormatan seorang prajurit dibawa hingga ke liang lahat."

Mari kita teladani keberanian Bang Kalong yang tak pernah gentar menyuarakan kebenaran. Beliau adalah pengingat bagi kita semua bahwa menjadi patriot berarti berani mengatakan "salah" kepada kekuasaan demi kebenaran yang abadi.

Hormat gerak untuk Sang Badak Putih Siliwangi! Merdeka!



Posting Komentar untuk "SANG PANGLIMA SILIWANGI YANG TAK BISA TAK BISA DIBUNGKAM "